Pers Netral Vs Kandidat Makan Tiwul

KETUA Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Lampung Supriyadi Alfian menghimbau wartawan menyajikan berita secara obyektif sesuai fakta dan data sebenarnya. Tidak boleh berita hoaks, apalagi bersifat black campaign (kampanye hitam) menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak. Alasannya media massa dan wartawan, apalagi anggota PWI harus punya tanggung jawab berperan aktif membangun daerah, khususnya Provinsi Lampung di segala bidang, termasuk politik.

Apa yang dikatakan Supriyadi senada yang disampaikan Dewan Pers. Dimana pers harus memiliki asas menjaga independensi dan keberimbangan ke semua pihak. Sebab dengan terlibat pilkada otomatis wartawan tidak bersikap netral. Oleh karena itu, selama menjalani pilkada, termasuk para tim suksesnya, sebaiknya nonaktif dulu di jabatan organisasi kewartawanan dan sebagai wartawan.

Pertanyaan sudahkah ini terjadi di Lampung ? Saya rasa publik yang bisa menilai. Namun saya beranggapan istilah netral harusnya diartikan berani bersikap. Berani menyuarakan fakta dan kenyataan apa adanya. Berani menulis dan menyampaikan sesuatu yang dirasakan baik atau tidak baik. Standarnya tentunya etika dan moralitas.

Bukan sebaliknya. Bersikap netral memilih diam dan bermain dizona aman. Pers yang seperti aktif tapi sebenarnya bersandiwara dan semu. Yang bisa “mengolah”  sesuatu yang buruk menjadi menarik.

Pers yang menghapus kenyataan. Pers yang mengada-ngada. Pers “lucu-lucuan” yang tingkat selera humornya diatas aktor favorit saya Alm. Benyamin Sueb.

Pers yang pintar “memoles”. Seperti menulis salahsatu kontestan yang sebenarnya biasa hidup mewah, namun digambarkan seakan-akan dalam kesehariannya hidup sangat sederhana. Seolah-olah merupakan orang sangat merakyat. Sehingga mengaku tiap hari memilih makan tiwul yang membuat masyarakat di pelosokpun langsung “terhibur” dan tertawa terpingkal-pingkal saat membacanya.

Pers yang ukuran hanya “kue iklan”. Sehingga berani menjual atau menutupi profesionalitas, mengebelakangi norma, serta menyampingkan nilai filosofi profesi dan moralitas.

Tentunya kita tidak ingin ada media massa yang seperti ini di Lampung. Namun jika ada, mari kita sama-sama berdoa semoga media tersebut dapat segera disadarkan dari kekeliruannya.(wassalam)