Cagub Jabar – Cagub Lampung Partai Golkar

RASA sedih dan miris melihat fenomena dan dinamika di tubuh Partai Golkar Jawa Barat (Jabar). Khususnya menghadapi momentum Pemilihan Gubernur (Pilgub) tahun depan. Dimana DPP Partai Golkar memutuskan mengusung Wali Kota Bandung Ridwan Kamil sebagai Calon Gubernur (Cagub). Sementara Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Golkar setempat, Dedi Mulyadi diabaikan. Padahal Bupati Purwakarta ini sebelumnya aktif sosialisasi dan konsolidasi. Tujuannya mendukung dan mengenalkan diri sebagai salahsatu kandidat Cagub Jabar.

Tentunya saya harus berprasangka baik. Bahwa sikap DPP Partai Golkar yang mengusung Ridwal Kamil memang melalui pertimbangan matang. Dimana Golkar harus memperhatikan elektabilitas bakal cagub yang diusung agar punya potensi besar menang. Murni hasil survei. Yakni berdasarkan survei Poltracking Indonesia pada Juni lalu, dimana Emil berada di peringkat pertama dengan angka 21,38 persen. Sedangkan Dedi Mulyadi di posisi kedua di angka 4,88 persen.

Sekali lagi saya berharap keputusan DPP Partai Golkar ini benar-benar murni berdasarkan hasil survei. Bukan lantaran “kemarahan” DPP Partai Golkar terhadap sosok Dedi Mulyadi karena pernah mengungkapkan isu “kongkalingkong” terkait terbitnya surat rekomendasi DPP Partai Golkar. Dimana ada “harga dan mahar” yang harus di tebus sehingga mencuat menjadi isu nasional.

Lantas bagaimana dengan di Lampung ? Pada kesempatan ini sebagai orang yang pernah aktif di Partai Golkar, saya berharap DPP Partai Golkar tidak berlaku diskriminasi. Dimana dalam penentuan Cagub Lampung, DPP Partai Golkar harus juga memperhatikan hasil survei. Kemudian tak hanya itu, cagub yang diusung tentunya harus memiliki rekam jejak yang baik. Rekam jejak yang tidak akan menimbulkan potensi menjadi tersangka di kemudian hari karena terlibat kasus dugaan tindak pidana korupsi sehingga membuat sang cagub sibuk dan “tersandera”.

Selain itu, perlu juga diperhatikan pula hasil tes kesehatan maupun kejiwaan secara “paripurna dan menyeluruh”. Sehingga cagub yang diusung nantinya dapat diketahui dan dinyatakan benar-benar sehat dan stabil, baik jasmani dan rohani. Baik fisik dan mental, yang membuatnya tidak mudah terpancing emosi dan mengumbar sikap kebencian dan kemarahan saat menghadapi suatu permasalahan atau perbedaan pendapat.

Ini semua perlu dilakukan DPP Partai Golkar, agar Cagub Lampung yang diusung dapat memenangkan pertarungan politik pada Pilkada 2018. Dimana yang bersangkutan dapat merangkul semua pihak untuk mendukung dan “menyayanginya”. Sebab bagaimanapun dalam berpolitik ada istilah klasik bahwa “Kawan seribu masih sedikit jumlahnya. Sementara satu musuh terlalu banyak”.

Jika berbagai pertimbangan ini yang dipakai DPP Partai Golkar dalam menetapkan dan mengusung Cagub Lampung, maka saya yakin kedepan slogan Golkar Bangkit, Golkar Jaya, Golkar Menang akan terwujud. Bukan karena mendukung cagub hanya karena mencicipi “manisnya rasa gula” sesaat. Sebab bagaimana pun yang namanya “gula” berdasarkan hasil penelitian ilmuwan terkini, dia merupakan sumber dan asal muasal “penyakit” berbahaya yang justru akan menghancurkan citra Partai Golkar di masyarakat. Semoga di Lampung, hal ini tidak terjadi. Dan untung juga Pendaftaran Cagub-Wagub Lampung oleh Partai Politik di Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum dimulai, sehingga semuanya masih mungkin. (wassalam)