Barter Ketua Ala PAN Lampung

POLITIK itu kata orang dinamis. Dia bisa berwujud dan berubah kapan saja sesuai keinginan, kepentingan dan momentum tentunya. Seperti kondisi terkini di tubuh Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Amanat Nasional (PAN) Provinsi Lampung, misalnya.

Awalnya kencang berhembus bahwa Musyawarah Wilayah Luar Biasa (Muswillub) DPW PAN Provinsi Lampung yang menetapkan Zainudin Hasan sebagai ketua disebut ilegal. Dalam muswillub ini, adik kandung Ketua Umum (Ketum) DPP PAN yang juga Ketua MPR RI Zulkifli Hasan itu menggantikan Bachtiar Basri sebagai Ketua DPW PAN Lampung sebelumnya.

“Kami sangat berharap dalam mensikapi adanya perbedaan pandangan di tubuh DPW PAN Provinsi Lampung terkait muswillub yang menetapkan Zainudin Hasan sebagai ketua, Ketum DPP PAN Zulkifli Hasan tidak berjudi,” tegas Saad Sobari yang di Kabinet DPW PAN Provinsi Lampung era Bachtiar Basri duduk sebagai Ketua Harian, saat mengungkapkan perasaannya, belum lama ini.

Karenanya Saad Sobari waktu itu mengaku telah mengajukan surat pengajuan secara resmi pelaksanaan muswillub DPW PAN Lampung ke DPP PAN. Yakni hari Rabu, 27 September 2017. Ini menindaklanjuti Surat DPP PAN No : PAN/A/K-SJ/117/IX/2017 tertanggal 14 September 2017.

Lalu bagaimana perkembangan terkini ? Semua berubah. Wakil Gubernur Lampung yang juga mantan Ketua DWP PAN Lampung, Bachtiar Basri kini mantap diberikan tempat yang terhormat menjadi Wakil Ketua Umum DPP PAN. Sementara, secara resmi Zainudin Hasan menjadi ketua DPW PAN Lampung.

“Pak Bachtiar kita berikan tempat yang terhormat sebagai Wakil Ketua Umum DPP PAN. Untuk SK Kepengurusannya sudah keluar dan sudah saya bawa langsung,” kata Ketum DPP PAN Zulkifli Hasan saat orasi politiknya di acara Silaturahmi Temu Kader Partai Amanat Nasional se-Provinsi Lampung Menjahit Kembali Merah Putih di Swissbell Hotel Bandar Lampung, Kamis (5/10) malam.

Inilah versi PAN yang dinamakan politik santun. Politik barter ala PAN. Politik yang bisa menukar jabatan. Politik yang bisa menempatkan posisi orang tertentu kapan saja.
Tentunya saya hanya berharap. Sebagai sosok yang mengagumi, menghormati, dan meneladani YTH Kakanda Bachtiar Basri, saya hanya berdoa bahwa kata “barter” itu tidak tepat dan jauh dari nilai kebenaran.

Bahwa penunjukan beliau sebagai Wakil Ketua Umum DPP PAN bukan merupakan “hadiah”. Namun lebih dikarenakan adanya kebutuhan, kemampuan dan pengalamannya hingga dianggap mumpuni untuk mengemban posisi tersebut.

Sebab jika jabatan ini dianggap merupakan “hadiah” agar beliau tidak melakukan protes dan perlawanan terhadap perlakuan zholim. Dimana kakanda Bachtiar Basri telah di “makzulkan” dari jabatannya sebagai Ketua DPW PAN Lampung, padahal sebelumnya menjadi Ketua DPW PAN Lampung bukanlah keinginannnya pribadi. Melainkan justru karena diminta hingga tiga kali oleh Ketum PAN Zulkifli Hasan untuk membesarkan PAN di Lampung yang merupakan tanah kelahiran Zulkifli Hasan.

Karenanya dari hati yang paling dalam, seraya menghaturkan permohonan maaf yang setulus-tulusnya, saya hanya dapat menghimbau dan mengajak beliau untuk merenungi dan meresapi petuah orang-orang tua dahulu.

Dimana lebih baik mati berkalang tanah, dari pada hidup bercermin bangkai. Yang artinya daripada hidup menanggung malu, lebih baik mati, tepatnya. Toh dunia tidak selebar daun kelor. Saya yakin masih banyak posisi lain yang lebih “berkah” untuk orang sekaliber beliau.

Semoga Allah SWT selalu memberi hidayah kepada kita semua. Khususnya saya dan Om Bacht, tentunya. Amien. (Wassalam)