Polisi Harus Intensifkan Razia Petasan

Meski sudah dilarang, bunyi petasan masih saja berbunyi selama Bulan Ramadhan ini. Beberapa anak-anak tanpa perduli meledakkan petasan ketika umat muslim tengah menunaikan Sholat Tarawih.

BANDAR LAMPUNG – Meski sudah dilarang, bunyi petasan masih saja berbunyi selama Bulan Ramadhan ini. Beberapa anak-anak tanpa perduli meledakkan petasan ketika umat muslim tengah menunaikan Sholat Tarawih.

Bunyinya yang keras jelas menggangu kekhusukan ibadah. Namun kejadian tersebut terus terulang hingga beberapa malam.

Walikota Bandar Lampung, Herman HN, berharap orangtua menyadari jika petasan sangat berbahaya dan menggangu ibadah orang lain.

“Jangan dibelikan anaknya petasan. Setidaknya dilarang untuk beli petasan,” katanya.
Walikota juga meminta aparat untuk lebih intensif mengawasi petasan, khususnya pedagang di pasar.

“Saya tidak ingat aturannya.  Tapi petasan ini ada aturan perundangannya, tidak boleh,” katanya lagi.

Sementara Kapolresta Bandar Lampung, Kombes Pol. Murbani Budi Pitono mengaku sudah rutin melakukan sweeping kepada pedagang petasan.

“Petasan tidak boleh, kalau kembang api tidak apa-apa,” katanya.
Kapolresta mengimbau pedagang untuk mematuhi aturan. “Karena kami jika dalam razia kami temukan petasan, maka kami akan menyitanya,” katanya.

Terkait petasan ini, baru-baru ini seorang bocah berusia 7 tahun tewas akibat petasan yang dimainkannya menyambar bensin yang tengah dituang oleh ibunya. Keduanya mengalami luka bakar parah dan dilarikan ke aparat medis.

Ridho Romadhon (7), warga Kelurahan Maros, Kotaagung, Tanggamus sempat menjalani sehari perawatan intensif di Ruang Kemuning, Rumah Sakit Umum Abdul Muluk (RSUDAM) Lampung sebelum menghembuskan nafas terakhir sekitar pukul 14.00 WIB, Minggu (4/6).
Petasan juga memakan korban lain. Kali ini petasan yang sedang dirakit oleh Citra Redi Putrajaya (15) tiba tiba meledak. Hasilnya korban mengalami luka bakar di dada dan di tangan kanan. Korban kemudian di rawat di Ruang Kemuning, RSUDAM didampingi orangtuanya Sugiman (67) dan Yatmiati (37) Warga Desa Srikaton, Kecamatan Tanjungbintang, Lampung Selatan.

Remaja yang akrab disapa Redi ini menjelaskan peristiwa itu terjadi saat dirinya bersama teman-temannya hendak membuat mercon rakitan menggunakan kaleng sarden diisi spritus dan ditambahkan magnet korek.

“Waktu mau saya hidupkan, tiba tiba keluar api dan langsung menyambar baju sampai terbakar. Tidak ada ledakan, hanya api saja,” jelas Redi yang mengaku kapok dan tidak akan bermain petasan lagi. (ilo/lps)