Walikota Akui Curiga Sabotase, Pedagang Wayhalim Siap Surati Jokowi

BANDAR LAMPUNG – Dugaan sabotase atau kesengajaan pembakaran di pasar penampungan Wayhalim diakui oleh Walikota Bandar Lampung, Herman HN, saat meninjau lokasi, semalam (20/1/18).

Kecurigaan itu diungkapkannya setelah beberapa waktu melihat lebih ke dalam lokasi kebakaran di samping SD Al Azhar tersebut.

“Terdengar ada ledakan. Padahal di dalam nggak ada yang jualan gas. Dan sumbernya dari tengah,” katanya.

Hanya saja, kata Walikota, ini hanya kecurigaan awal. Penyidikan akan diserahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian.

“Kalau terbukti memang sengaja dibakar, kita mau pelakunya segera ditangkap,” katanya.

Sementara itu, hingga larut malam, sejumlah pedagang masih berusaha menyelamatkan barang dagangannya. Mereka mengais puing-puing dan berharap dapat menyelamatkan sisa-sisa dagangan yang masih layak jual.

“Kebakaran ini seperti musibah yang kedua buat kami. Pindah ke sini (penampungan) aja sudah seperti musibah. Jualan sepi, bahkan sering nggak dapat penglaris. Sekarang malah terbakar,” kata Igo, salah satu pedagang di Wayhalim.

Igo membenarkan sebelumnya ada perdebatan di antara pedagang terkait ukuran kios yang tidak seragam, sehingga menimbulkan kecurigaan.

“Kami sebelumnya sudah tanya. Tapi, kata kepala dinas  (Pasar: Syahriwansyah), perbedaan ukuran itu karena tukangnya salah ukur waktu membuat. Ada juga yang karena kelebihan tanah, terus sengaja dilebarkan biar (tanah) terpakai,” jelasnya.

Igo mengakui ada kecurigaan terkait pembagian kios. Sebab, dalam pengundian yang dijadwalkan Senin (22/1/18), hanya undangan tertentu saja yang diperbolehkan hadir.

“Padahal, kami-kami yang lain ini kan ingin tahu siapa yang nempatin kios-kios itu nanti. Apa benar pedagang lama. Jangan-jangan malah orang lain,” katanya.

Dia mengakui, ada banyak pedagang yang tampaknya bakal tak kebagian kios. Khususnya pedagang yang sebelumnya hanya menyewa (ngontrak) di pasar lama.

“Jumlahnya banyak. Yang terdata saja ada sekitar 87 an. Tapi sebenarnya jumlah banyak. Mungkin lebih dari ratusan. Sementara yang dibagikan adalah pedagang-pedagang pemilik,” katanya.

Memang, kios yang dibangun jumlahnya mencapai lebih dari 240 kios, sementara kios lama berjumlah sekitar 190 kios. Ada kelebihan sekitar 50 kios. Namun, dia sangsi jika sisa kios itu akan dibagikan kepada pedagang yang sebelumnya mengontrak.

“Kami sudah siap memperjuangkannya ke Jakarta. Bahkan, kalau perlu ke (Presiden) Jokowi. Karena  dalam nawacitanya, Jokowi membangun pasar ini kan untuk pedagang, bukan untuk pemilik,” katanya.

Seperti juga pedagang lainnya, Igo juga mempertanyakan kualitas pembangunan pasar mengingat besaran dana yang diguyur pemerintah pusat melalui pemerintah kota jumlahnya mencapai Rp90 miliar.

“Lihat saja, gotnya aja seperti itu. Kecil dan sempit. Gimana kalau hujan nanti, apa tidak banjir. Tampak sekali tidak terencana,”katanya. (ilo)