Soal Pilgub, Ridho : Lampung Plural, Jangan Ikuti Oknum Cukong

BANDARLAMPUNG – Calon Gubernur Lampung nomor urut satu, HM. Ridho Ficardo angkat bicara terkait situasi politik menjelang pemilihan gubernur (pilgub) dan wakil gubernur, 27 Juni mendatang. Menurutnya, kini ada gejala gangguan sistematis guna merubah suara rakyat. Hal ini disebabkan tingkahlaku satu oknum cukong bermata sipit dan berambut panjang yang berusaha membuat kepemimpinan Lampung seperti boneka.

“Cukong mata sipit dan berambut panjang ini hanya satu orang, kalau tersinggung jangan baper, kan saya sudah terangkan cirinya,” tutur Ridho di acara buka puasa bersama di Mapolda Lampung, Rabu (6/6).

Menurut Ridho, tentang siapa satu oknum cukong rambut panjang mata sipit yang dimaksud, semua orang termasuk aparat penegak hukum seperti polisi, sudah mengerti. Untuk itu, dia minta kalimatnya soal “mata sipit” dikaji mendalam.

“Jadi jangan baper. Kalau baper mikirnya ngaco, kalau sudah ngaco pas ditanya lalulintas jawabnya disabilitas. Jika ikut maunya satu orang oknum cukong rambut panjang mata sipit, berantakan semua,” terangnya.

Ridho berpesan, oknum cukong ini jangan sampai merusak pluralisme di Lampung. DimanaLampung menjadi salahsatu daerah yang memiliki banyak pendatang, baik itu suku Jawa, Bali, bahkan Tionghoa dan lainnya.

“Jangan sampai justru karena harus ikut mau satu orang oknum cukong rambut panjang mata sipit, berantakan semuanya,” harapnya.

Biarlah lanjut Ridho yang menang kontestasi pilkada yang terbaik. Yakni tanpa ada paksaan dan upaya cukong yang berusaha membuat kepemimpinan daerah jadi kepemimpinan boneka.

“Idealisme harus tetap ada menjaga masa depan Lampung. Saatnya masyarakat menentukan masa depan sendiri tanpa gangguan,” pesannya.

Mengapa ? Karena sekali lagi jangan sampai ada satu oknum cukong bermata sipit dan berambut panjang yang membajak demokrasi pilgub Lampung.

“Indikasi jelas, saya lihat ada gangguan oknum cukong bermata sipit dan berambut panjang yang berusaha dari awal membeli semua partai, mengarahkan dan membajak demokrasi,” ujar Ridho.

“Pernyataan ini hanya merujuk satu orang. Bukan ke golongan tertentu. Jangan masyarakat salah persepsi atau disesatkan,” pungkasnya.(red)