BANDAR LAMPUNG – Walikota Bandarlampung Eva Dwiana berkesempatan membesuk personil Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandarlampung Aulia Ahmad Akbar yang mengalami kecelakaan kerja saat menjalankan tugas evakuasi bencana di wilayah Gang Onta, Kecamatan Kedaton.

Secara langsung orang nomor satu di kota Tapis Berseri tersebut memberikan perhatian khusus dengan memberikan bantuan uang tunai Rp15 juta dan umroh.

Eva Dwiana mengucapkan terima kash atas pengorbanan Aulia Ahmad Akbar dalam membantu evakuasi korban banjir, ini merupakan pekerjaan yang penuh resiko.

“Semoga Aulia Ahmad Akbar personil BPBD kota Bandarlampung lekas sembuh dan dapat kembali membantu warga,” ucap Eva Dwiana,Kamis.( 16/4/2026).

Sebelumnya, Rabu (15/4/2026), seharusnya menjadi waktu jeda bagi Aulia Ahmad Akbar. Usai menunaikan Salat Zuhur, tubuhnya lelah setelah berjibaku membantu warga yang terdampak banjir di Gang Onta, Kecamatan Kedaton, Kota Bandarlampung.

Namun, di sela waktu istirahat itulah, musibah tak terduga datang menghampiri. Akbar, petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandarlampung, tetap memilih berada di lokasi.

Di hadapannya, air masih menggenang, menyisakan pekerjaan yang belum sepenuhnya rampung. Dengan niat memastikan alat tetap berfungsi optimal, ia berupaya membersihkan mesin pompa penyedot air yang sebelumnya digunakan untuk membantu warga.

Nahas, mesin yang masih dalam kondisi menyala itu justru menjadi sumber petaka. Dalam hitungan detik, tangan Akbar tersedot ke dalam mesin. Jeritan dan kepanikan pun pecah di tengah suasana yang semula mulai lengang.

Akibat kejadian tersebut, tiga jari tangan Akbar putus. Rekan-rekannya yang berada di lokasi segera memberikan pertolongan dan membawanya ke Rumah Sakit Advent, yang jaraknya tak jauh dari lokasi kejadian.

Di ruang perawatan, perjuangan Akbar belum usai. Ia kini harus menjalani serangkaian tindakan medis dan pemulihan pascaoperasi. Di balik peristiwa itu, terselip kisah pengabdian seorang petugas yang tetap bertahan di lapangan, bahkan ketika tubuhnya meminta untuk beristirahat.

Orangtua Akbar menyebut kondisi putranya membutuhkan perhatian serius, tidak hanya dari sisi medis, tetapi juga dukungan pemulihan jangka panjang. Di tengah keterbatasan yang kini dihadapi, harapan tetap menyala—agar pengorbanan Akbar sebagai garda terdepan penanggulangan bencana tidak berlalu tanpa perhatian.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap upaya penyelamatan, ada risiko besar yang dihadapi para petugas di lapangan—mereka yang sering kali bekerja dalam diam, namun mempertaruhkan keselamatan diri demi orang lain. (*)