LAMPUNG TIMUR – Langit Sukadana perlahan berubah jingga. Deru kendaraan yang melintas di persimpangan kian padat menjelang waktu berbuka puasa. Di tengah hiruk-pikuk sore Ramadhan itu, senyum-senyum tulus para Polisi Wanita (Polwan) dari Polres Lampung Timur hadir menyapa masyarakat, membagikan takjil sekaligus menebar kehangatan, Jum’at (27/02/2026).
Di SPBU Sukadana dan Lampu Merah Simpang TL Desa Mataram Marga, tangan-tangan berseragam cokelat itu menyodorkan paket berbuka kepada pengendara yang melintas. Bukan sekadar makanan pelepas dahaga, tetapi juga pesan kepedulian dan kebersamaan di bulan suci. Senyum mereka menjadi bahasa universal—bahwa polisi tak hanya hadir dalam penegakan hukum, tetapi juga dalam sentuhan kemanusiaan.
Kegiatan berbagi tersebut dipimpin oleh AKP Tatik Mulyaningsih bersama seluruh personel Polwan. Dengan penuh semangat, mereka berdiri di tepi jalan, menyapa satu per satu pengendara roda dua maupun roda empat yang melintas menjelang adzan maghrib.
Bagi jajaran Polres Lampung Timur, momentum Ramadhan bukan sekadar agenda rutin, melainkan ruang untuk mempererat silaturahmi. Pengabdian tidak selalu diwujudkan dalam bentuk patroli dan penindakan. Di sore itu, pengabdian hadir dalam bentuk sederhana—sebungkus takjil dan senyum tulus di persimpangan jalan.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan dan mempererat hubungan dengan masyarakat. Kehadiran Polri harus bisa dirasakan tidak hanya saat ada persoalan, tetapi juga dalam suasana penuh berkah seperti Ramadhan,” ujar AKP Tatik.
Di sela pembagian takjil, imbauan kamtibmas turut disampaikan. Para pengendara diingatkan untuk tetap tertib berlalu lintas, berhati-hati di jalan, serta menjaga keamanan dan ketertiban selama bulan suci. Menjelang waktu berbuka, mobilitas masyarakat meningkat dan kewaspadaan bersama menjadi kunci menjaga situasi tetap kondusif.
Ramadhan selalu mengajarkan arti memberi tanpa pamrih. Di tengah kesibukan tugas menjaga keamanan wilayah, para Polwan memilih hadir lebih dekat dengan masyarakat. Mungkin bagi sebagian orang, sebungkus takjil hanyalah hidangan sederhana untuk membatalkan puasa.
Namun di sore itu, di jalanan Sukadana, ia menjelma simbol kepedulian.
Senja akhirnya berganti malam. Lampu-lampu jalan menyala, kendaraan berlalu membawa takjil di tangan. Namun yang tertinggal bukan hanya rasa manis saat berbuka, melainkan kesan hangat tentang polisi yang hadir dengan sisi kemanusiaannya.
Di ujung senja Ramadhan itu, berkah terasa mengalir di setiap sudut jalanan Sukadana. Dan senyum para Polwan menjadi jembatan yang menghubungkan tugas, pengabdian, dan ketulusan dalam satu bingkai yang penuh makna. (Rusman Ali)



















