LAMPUNG TIMUR – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan kepada siswa SD Negeri 1 Negara Nabung, Kecamatan Sukadana, Kabupaten Lampung Timur, kembali menjadi sorotan. Menu yang diterima siswa pada Senin (9/3/2026) memunculkan pertanyaan terkait keseimbangan gizi yang seharusnya menjadi tujuan utama program tersebut.
Berdasarkan dokumentasi yang diterima redaksi, paket makanan yang dibagikan kepada siswa terdiri dari susu UHT 125 ml, dua lembar roti tawar, satu pastel goreng, serta beberapa butir anggur dalam plastik kecil.
Secara kasat mata, menu tersebut memang memberikan asupan energi bagi anak-anak. Namun jika ditelaah dari sisi komposisi gizi, paket makanan itu dinilai belum sepenuhnya mencerminkan prinsip gizi seimbang yang menjadi dasar pelaksanaan program MBG.
Dari estimasi sederhana, total energi dari menu tersebut berkisar 400–480 kilokalori, angka yang secara umum mendekati kebutuhan makanan tambahan bagi anak usia sekolah dasar. Meski demikian, sumber protein dalam menu tersebut dinilai sangat terbatas dan hampir seluruhnya hanya berasal dari susu.
Salah seorang wali murid, Jainal Yusuf, menilai menu tersebut juga tidak terlihat mengandung sayuran, sementara porsi buah yang diberikan relatif kecil. Padahal, dalam konsep gizi seimbang bagi anak usia sekolah, komposisi makanan idealnya mencakup karbohidrat, protein hewani atau nabati yang cukup, sayuran, serta buah sebagai sumber vitamin dan mineral.
“Dominasi makanan berbasis tepung seperti roti dan pastel juga memunculkan catatan tersendiri. Jika menu dengan komposisi seperti ini diberikan secara berulang, dikhawatirkan anak-anak hanya memperoleh kalori tanpa keseimbangan zat gizi yang memadai,” ujar Jainal, Senin (9/3/2026).
Ia menambahkan, program MBG digagas pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas gizi anak sekolah sekaligus mencegah stunting dan kekurangan gizi. Karena itu, kualitas menu yang dibagikan kepada siswa menjadi aspek krusial yang tidak bisa dipandang sekadar formalitas.
Menurutnya, evaluasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program di lapangan perlu diperkuat agar MBG benar-benar menghadirkan makanan dengan komposisi gizi yang seimbang, bukan sekadar pembagian makanan kepada siswa.
“Hak anak-anak adalah mendapatkan makanan yang benar-benar bergizi, bukan sekadar makanan yang mengenyangkan,” tegasnya.
Hingga berita ini disusun, pihak pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bumi Ayu belum memberikan keterangan resmi terkait standar penyusunan menu yang dibagikan kepada siswa di sekolah tersebut. Redaksi telah mengirimkan permintaan konfirmasi melalui pesan WhatsApp kepada Kepala SPPG Bumi Ayu, Yoga Pratama Putra, namun hingga berita ini diterbitkan belum mendapatkan tanggapan. (Rusman Ali)




















