Mantan Sekretaris Golkar Minta Barlian Bongkar Keterlibatan Korporate

BANDARLAMPUNG – Mantan Sekretaris DPD Partai Golkar Kabupaten Pesawaran, Romi Husin, S.H., mengapresiasi sikap Barlian Mansyur yang mundur dari pengurus Partai Golkar karena kecewa sosok Ketua DPD Partai Golkar Lampung, Arinal Djunaidi. Romi, berharap Barlian tidak “setengah-setengah” membongkar “kebobrokan” sosok Arinal. Namun berani secara gamblang, termasuk soal keterlibatan korporate di pemenangan Arinal dalam Pilgub Lampung dengan melakukan politik uang secara terstruktur, sistematis, dan massif.

“Jangan tanggung. Bongkar semua soal politik uang dan peranan korporate atau perusahaan dalam Pilgub Lampung,” tegas Romi Husin.

Pada kesempatan ini, Romi menilai mundurnya beberapa kader terbaik Partai Golkar di era Arinal, merupakan sinyal kemunduran partai. Nantinya semua kader Partai Golkar dituntut melakukan “politik uang” daripada menjual “ketokohan” atau visi-misi saat mencalonkan diri sebagai anggota legislatif atau kepala daerah.

“Sebab kita tahu. Pilgub kemarin, masyarakat bukan memilih Arinal-Nunik, sebagai Gubernur-Wakil Gubernur karena ketokohan atau visi-misi. Tapi memilih “uang” yang disebar para tim pemenangan. Ini sangat berbahaya bagi demokrasi di Lampung,” tandasnya.

Kedepan Romi menegaskan, dia bersama elemen masyarakat akan mendesak Gubernur Lampung H.M. Ridho Ficardo meninjau ulang izin dan rekomendasi yang diberikan kepada PT. Sugar Group Company (SGC). Sehingga perusahaan ini tidak bisa ikut campur lagi “mengatur” dan menyetir calon kepala daerah yang ikut pesta demokrasi di Lampung.

“Untuk tahap awal ini melalui komunitas #desakridhotinjauizinsgc, kami akan beraudiensi dengan berbagai pihak menyatukan visi mewujudkan Lampung berdaulat dan bermartabat. Gerakan ini murni keinginan masyarakat Lampung,” pungkasnya.

Seperti diberitakan langkah Barlian Mansyur mundur dari pengurus Partai Golkar terus dapat dukungan. Mantan Ketua Bidang Hukum, HAM dan Otda (Bakumham) DPD Partai Golkar Lampung Wiliyus Prayietno, S.H., M.H., menilai langkah Barlian tepat.

“Sekarang hampir tidak ada kebanggaan menjadi pengurus golkar di era Arinal. Tiap hari mendapat hujatan dan aksi massa karena kuatnya peranan “korporasi” sehingga timbul kesan partai ini sudah tidak mandiri dan independen,” tegas Wiliyus.

Wiliyus menambahkan sikap ini menujukkan jati diri Barlian sebagai politisi berintegritas.

“Saya yakin partai lain berlomba dan berebut mengajak bergabung. Yang rugi Partai Golkar yang akan ditinggalkan konstituennya. Tak mungkin Barlian bisa duduk di dewan jika tidak dicintai masyarakat. Saat ini di DPRD Kota Bandarlampung, dia satu-satunya anggota dewan tiga periode berturut-turut,” papar Wiliyus lagi.

Hal senada dikatakan Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Lampung, Asep Yani. Menurut Asep, Barlian memiliki sikap ksatria dan jauh dari “kemunafikan”. Selain itu menunjukan eksistensinya sebagai politisi kawakan yang memiliki pendirian mempertahankan prinsip dan nilai kebenaran.

“Sekarang jarang ada politisi yang berani seperti Barlian. Yang ramai politisi munafik. Yang enggan menyatakan kebenaran lantaran takut posisi atau jabatan terancam. Sehingga melakukan semua upaya, termasuk mengedepankan sikap “menjilat” sekalipun,” tutur Asep Yani.

Asep yang juga Sekretaris Depidar SOKSI Lampung mendukung sikap Barlian yang mundur karena merasa tidak cocok yang kepemimpinan Ketua DPD Partai Golkar Lampung, Arinal Djunaidi.

“Malah saran saya, saudara Barlian harus lebih berani. Ungkap semua kebobrokan yang dia ketahui selama kepemimpinan Arinal. Termasuk soal carut marut Pilgub Lampung. Biar publik tahu. Katakan yang benar itu benar, meskipun pahit,” tandas Asep Yani.

Diberitakan satu persatu kader Golkar Lampung mundur karena kecewa pada Arinal. Terbaru anggota DPRD Kota Bandarlampung, Barlian. “Cara berpolitiknya (Arinal,red) “kotor” dan tidak elegan. Saya kecewa cara kepemimpinannya. Karenanya saya milih mundur,” tegas Barlian.

Menurut Barlian, ada instruksi yang tidak lazim oleh Arinal sebelum hari H pecoblosan Pilgub Lampung, 27 Juni 2018 lalu. Sayangnya Koordinator Pemenangan Wilayah I Kota Bandarlampung tidak menyebut instruksi yang dimaksud. ”Suatu saat pasti saya ungkap. Untuk masalah ini saya siap jadi saksi mahkota,” tegasnya lagi.

Dipaparkan Barlian, dia dituding tidak bekerja di pemenangan Arinal-Nunik di Kota Bandarlampung. Padahal di TPS (tempat pemungutan suara,red) yang bersangkutan kalah telak. Padahal semua upaya sudah dilakukan. “Tapi ya sudahlah, yang penting saya sudah pegang kartu AS-nya. Pasti nanti akan saya ungkap carut marut pelaksanaan Pilgub Lampung, sehingga pasangan Arinal-Nunik bisa menang,” tutupnya.

Sebelumnya beberapa kader Partai Golkar sudah terlebih dulu mundur karena kecewa kepemimpinan Arinal. Sebut saja. Hi. Kaswan Sanusi yang mundur dari Ketua DPD Partai Golkar Lampung Tengah.

“Saya mundur lantaran ketidakcocokan. Khususnya terhadap gaya kepemimpinan Arinal. Tidak etis kalau saya ungkapkan. Biarlah saya yang memutuskan mundur sehingga tidak ada pertentangan. Yang pasti perlu saya tegaskan, di partai ini saya semata mengabdi. Tanpa ingin menyombongkan diri, saya tidak mencari hidup di partai. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, rezeki yang ada sangat berlimpah. Saya memiliki usaha dan penghasilan yang jelas, yang insya Allah lebih dari cukup,” tuturnya beberapa waktu lalu.

Selain Kaswan Sanusi, Miswan Rodi, anggota DPRD Lampung memilih mundur dari Partai Golkar. Dia bergabung Partai Nasdem. Miswan Rodi mundur karena kecewa dengan Arinal. “Akibat sikap saya ini tak mengapa saya harus kehilangan jabatan anggota DPRD Lampung,” tutur Miswan.

Menurut Miswan, pada hakekatnya dia masih mencintai Partai Golkar. Bagaimanapun dia tidak lupa Partai Golkar yang telah menjadikan sebagai anggota DPRD Lamteng serta anggota DPRD Lampung. Namun kini kondisi Golkar Lampung semasa dipimpin Arinal berbeda. Gaya yang bersangkutan seperti mengelola perusahaan. Saling menonjolkan ego dan rasa individualisme. Tidak ada rasa solidaritas dan setia kawan. Yang muncul sikap saling curiga dan tidak percaya.

Mirisnya lagi tidak ada pembelaan yang dilakukan oleh Arinal terhadap kadernya yang tertimpa masalah hukum. “Padahal tidak terhitung beberapa biaya yang telah saya keluarkan membesarkan Partai Golkar, semua murni dana pribadi. Tapi ternyata tidak ada apresiasi. Ini mendorong saya mundur dari Partai Golkar,” urai dia.

Tak hanya Kaswan dan Miswan, kader Partai Golkar Lampung lainnya, Jauharoh Haddad juga memilih mundur semasa kepemimpinan Arinal Djunaidi. Kader perempuan yang aktif di berbagai organisasi ini, kini memilih bergabung di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).(red)