PESAWARAN – Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, memiliki sejarah panjang yang berakar dari proses transmigrasi leluhur yang hijrah dari Pulau Jawa ke wilayah Lampung.

Sejak awal pembukaannya pada tahun 1905, desa ini terus berkembang hingga kini dipimpin oleh Kepala Desa ke-13, Merdi Parmanto, S.Kom., M.Pd., dengan kemajuan yang kian pesat.

Perjalanan panjang Desa Bagelen tidak lepas dari perjuangan para leluhur yang membuka alas di masa penjajahan kolonial Belanda. Seiring waktu, estafet kepemimpinan desa terus berlanjut hingga membentuk pemerintahan desa yang stabil dan berkembang seperti saat ini.

Salah satu tokoh yang turut memperjuangkan pelestarian sejarah Desa Bagelen sekaligus penggagas berdirinya Museum Transmigrasi di desa tersebut, Prof. Sugeng, menjelaskan bahwa kemajuan Desa Bagelen merupakan hasil dari proses panjang dan kesinambungan kepemimpinan desa dari masa ke masa.

“Sejak awal membuka alas hingga terbentuknya Desa Bagelen pada tahun 1905, desa ini telah melalui berbagai tahapan perjuangan. Alhamdulillah, hingga saat ini Desa Bagelen telah menunjukkan banyak kemajuan, baik dari sisi kemasyarakatan maupun pembangunan infrastruktur seperti jalan, irigasi, dan gedung-gedung penunjang lainnya. Saya melihat tongkat estafet kepemimpinan dari kepala desa pertama hingga kini, di bawah kepemimpinan Bapak Merdi Parmanto sebagai kepala desa ke-13, Desa Bagelen berkembang sangat pesat,” ungkap Prof. Sugeng. Saat berkunjung dan foto bersama di prasasti. Jumat (6/2/2026).

Sementara itu, Kepala Desa Bagelen Merdi Parmanto menegaskan bahwa lahirnya Desa Bagelen merupakan buah dari perjuangan panjang para leluhur yang patut dijaga dan dihormati oleh generasi penerus.

“Saya mengakui bahwa Desa Bagelen lahir melalui proses sejarah yang panjang dan penuh perjuangan. Oleh karena itu, saya berkomitmen untuk terus menjaga kerukunan antar warga serta mempertahankan nilai-nilai dan norma yang telah diajarkan oleh para leluhur sejak awal pembukaan desa pada tahun 1905,” ujar Merdi.

Merdi juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada Prof. Sugeng atas kontribusinya dalam memperjuangkan pendirian Museum Transmigrasi sebagai upaya menjaga dan mengenang sejarah desa.

“Atas nama masyarakat Desa Bagelen, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. Sugeng atas perjuangannya. Berkat dedikasi beliau, Desa Bagelen dapat terus berkembang menjadi desa yang maju, damai, dan rukun,” katanya.

Lebih lanjut, Merdi mengajak seluruh elemen masyarakat Desa Bagelen yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan budaya, khususnya generasi penerus keturunan transmigran, untuk senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya leluhur, sekaligus menghormati adat dan budaya yang berlaku di Provinsi Lampung.

“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Nilai-nilai budaya leluhur harus terus kita jaga sebagai identitas dan kekuatan dalam membangun Desa Bagelen ke depan,” pungkasnya. (**)