JAKARTA – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan adanya potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan imbas pecahnya konflik di Timur Tengah. Informasi ini didapat dari para buruh di lapangan.
Serikat pekerja disebut sudah diajak berdiskusi oleh perwakilan perusahaan terkait potensi pengurangan tenaga kerja.
Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, ancaman PHK paling terasa di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester.
“Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester, dan sebagainya,” katanya dikutip detik.com.
Sektor kedua yang terancam melakukan PHK adalah industri plastik akibat lonjakan harga bahan baku impor. Industri ini menghadapi tekanan karena biaya produksi meningkat seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Dampak lanjutan juga bisa merembet ke industri lain seperti elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik. Selain itu, sektor semen juga menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan (oversupply) seiring permintaan yang melemah akibat konflik.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengakui saat ini sektor manufaktur Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius seiring berlangsungnya konflik di Timur Tengah, yang berpotensi menimbulkan PHK massal.
“Kita ini sekarang dalam kondisi yang memang harus diberi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia,” kata Agus kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
Menurutnya, saat ini sektor manufaktur dalam negeri sedang menghadapi berbagai tekanan, mulai dari rantai pasok, harga bahan baku produksi, hingga pelemahan pasar. Namun, ia meyakini kondisi ini hanya bersifat sementara, mengingat mayoritas tekanan berasal dari faktor global.
Agus percaya industri dalam negeri mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global saat ini. Sebab, menurutnya, kondisi seperti ini bukanlah kali pertama sektor manufaktur mengalami tekanan.
“Saya tetap percaya dengan resiliensi sektor manufaktur. Kita sudah berkali-kali mengalami krisis dengan magnitude yang luar biasa, terakhir COVID-19, di mana teman-teman manufaktur bisa menunjukkan resiliensinya,” tegas Agus. (detik)




















