BANDARLAMPUNG – Ketua Umum (Ketum) MUI Provinsi Lampung, Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag, mengajak umat muslim senantiasa berkomitmen meningkatkan ketakwaan kepada Allah, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab, dengan takwa yang kuat, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi.

Selain itu, Allah akan senantiasa memberikan rezeki dan nikmat dari arah yang tidak kita sangka-sangka. Hal ini ungkapkan Moh. Mukri saat mengisi khutbah Shalat Idul Adha di Masjid Al-Bakrie, Rabu, 27 Mei 2026. Turut hadir shalat bersama, yakni Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dan Forkompinda Provinsi Lampung dan ribuan masyarakat sekitar.

Menurut Mukri, rasa syukur dan ketakwaan menemukan momentumnya di Bulan Dzulhijjah. Tepatnya Hari Raya Idul Adha. Dimana terdapat satu ibadah mulia yang hanya bisa dilaksanakan pada waktu ini dan merupakan ekspresi wujud syukur dan takwa.

Ibadah itu adalah ibadah kurban. Ibadah yang tidak bisa lepas dari kisah panjang Nabi Ibrahim bersama istrinya yang bernama Siti Hajar. Setelah lama menantikan keturunan, Allah menganugerahkan Ismail kepada mereka. Namun, Allah juga menguji keimanan Nabi Ibrahim dengan memerintahkan agar Siti Hajar dan Ismail tinggal di lembah tandus dekat Baitullah. Di tempat itu, Siti Hajar pernah kehabisan air hingga berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali untuk mencari pertolongan. Atas izin Allah, kemudian memancarlah air zamzam dari bawah kaki Ismail yang saat itu menangis kehausan.

Cobaan Nabi Ibrahim belum berhenti. Melalui mimpi, Allah memerintahkan beliau menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Awalnya Nabi Ibrahim merenung memastikan bahwa mimpi itu benar-benar perintah Allah. Setelah yakin, ia menyampaikan hal itu kepada Ismail. Dengan penuh keimanan, Ismail menerima perintah itu dengan sabar dan ikhlas.

Ketika hari penyembelihan tiba, setan terus menggoda Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar agar membatalkan perintah Allah. Namun keteguhan iman mereka tidak goyah sedikit pun.

Pada detik-detik Nabi Ibrahim akan menyembelih Ismail, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim berhenti. Sebagai gantinya, Allah mengirimkan Malaikat Jibril yang membawa seekor hewan untuk disembelih menggantikan Ismail.

Dari peristiwa bersejarah inilah, kita disyariatkan menyembelih hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha sebagai simbol ketakwaan, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah SWT.

Penyembelihan hewan kurban bukan sekadar ritual menyembelih hewan. Tetapi mengandung hikmah yang sangat besar. Kurban mengajarkan arti pengorbanan, keikhlasan, kepedulian sosial, dan semangat berbagi kepada sesama.

Setelah disembelih, daging kurban tidak hanya dinikmati oleh orang-orang yang mampu. Tetapi juga dibagikan kepada fakir miskin, kaum dhuafa, dan masyarakat yang membutuhkan. Dari sinilah Islam mengajarkan kebahagiaan sejati bukan hanya saat menerima. Tetapi juga ketika kita mampu memberi manfaat kepada orang lain dan menjadi bagian dari terselenggaranya kebaikan.

Jika melihat kondisi sosial saat ini, kehidupan kita telah banyak berubah seiring berkembangnya media sosial dan teknologi digital. Jaringan komunikasi terbuka begitu lebar. Kita dengan mudah terhubung satu sama lain hanya melalui genggaman tangan.

Informasi menyebar sangat cepat tanpa batas ruang dan waktu. Namun,di tengah terbukanya komunikasi, kepedulian sosial justru cenderung mulai pudar. Banyak dari kita yang sibuk menampilkan kehidupan pribadi di media sosial, tetapi kurang peka terhadap penderitaan orang-orang di sekitar. Tidak sedikit yang mempertontonkan gaya hidup hedonis, kemewahan, dan sikap berlebihan demi mendapatkan pengakuan dan perhatian.

Media sosial yang harusnya jadi sarana menyebarkan inspirasi dan kebaikan, kadang berubah menjadi tempat pamer kemewahan, ajang saling membandingkan kehidupan, bahkan memunculkan rasa iri dan kesenjangan sosial. Di saat sebagian mempertontonkan kemewahan makanan, kendaraan, dan liburan, masih banyak saudara- saudara kita yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Karena itu, ibadah kurban hadir sebagai pengingat agar tidak diperbudak oleh gaya hidup materialistis dan cinta dunia yang berlebihan. Kurban mengajarkan bahwa sebagian harta yang dimiliki ada hak orang lain di dalamnya. Islam mendidik umatnya agar tidak hanya pandai menikmati nikmat, tetapi juga pandai mensyukuri nikmat dengan cara berbagi.

Ibadah kurban mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Jangan sampai kita rajin beribadah secara pribadi, tetapi abai terhadap penderitaan masyarakat di sekitar. Jangan sampai masjid ramai dipenuhi jamaah, tetapi tetangga di sekitar masih kelaparan dan kesusahan. Islam bukan hanya agama ritual, tetapi juga agama kemanusiaan dan kepedulian sosial.

Karena itu Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan hubungan baik dengan Allah, tetapi juga hubungan baik dengan manusia. Orang yang paling mulia bukan hanya yang rajin beribadah, tetapi yang mampu menjaga lisan, membantu sesama, dan memberikan rasa aman dan memberi manfaat bagi lingkungannya.

Pesan penting dari ibadah kurban juga harus menjadi renungan bagi para pemimpin. Kita semua adalah pemimpin. Setiap pemimpin, sekecil apa pun amanah yang diemban, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Jabatan bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah besar yang kelak dipertanyakan.

Pemimpin hendaknya menjadikan amanah kekuasaannya sebagai jalan menghadirkan kemaslahatan, keadilan, dan kesejahteraan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Jangan sampai kepemimpinan hanya digunakan untuk kepentingan pribadi dan kelompok, sementara rakyat yang dipimpin justru menderita. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang memiliki kepedulian sosial, dekat dengan rakyat, mendengar keluhan masyarakat, serta mampu menjadi teladan dalam kejujuran, pengorbanan, dan pelayanan. Sebab sejatinya pemimpin adalah pelayan bagi umat, bukan orang yang harus selalu dilayani.

Semangat kurban mengajarkan bahwa semakin tinggi kedudukan seseorang, maka semakin besar pula pengorbanan yang harus diberikan untuk kepentingan orang banyak.

“Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang dicintai Allah karena kebaikan dan manfaat yang kita berikan ke sesama. Mari jadikan Hari Raya penyembelihan hewan kurban sebagai momentum menyembelih kesombongan, mengikis ketidakpedulian, dan menjadikan kita saleh individual dan juga saleh sosial. Amiin,” ajaknya.(rls)